Klinik utama, klinik pratama, dan rumah sakit tipe C atau D sering ingin menambah alat seperti USG, rontgen digital, mesin hemodialisis, atau peralatan laboratorium. Harganya besar, sehingga pembelian biasanya dibiayai bank atau perusahaan pembiayaan. Di tahap analisis, yang pertama diminta adalah laporan keuangan. Banyak pengajuan tertahan bukan karena usahanya lemah, tetapi karena laporan keuangannya tidak bisa menjelaskan arus kas dengan baik.
Apa yang Dicari Analis Kredit
Analis ingin tahu apakah tambahan alat bisa dibayar dari pendapatan yang ada atau pendapatan baru dari alat itu. Untuk itu mereka melihat:
- Tren pendapatan per layanan selama dua atau tiga tahun terakhir.
- Komposisi pendapatan dari BPJS, asuransi, dan pasien umum.
- Kemampuan bayar, dilihat dari laba sebelum penyusutan dibandingkan cicilan.
- Utang yang sudah ada, termasuk sewa alat dan pinjaman pemilik.
Cukup Disusun atau Harus Diaudit
| Kondisi | Laporan yang umumnya cukup |
|---|---|
| Plafon kecil, klinik baru | Laporan keuangan internal atau kompilasi, ditambah rekening koran |
| Plafon menengah, usaha sudah berjalan | Laporan kompilasi atau review oleh akuntan |
| Plafon besar atau grup klinik | Laporan keuangan audited, sering dua sampai tiga tahun |
Kebijakan tiap bank berbeda. Tanyakan sejak awal jenis laporan dan tahun buku yang diminta, supaya tidak menyusun dua kali.
Pos yang Perlu Dirapikan
- Pendapatan per unit layanan. Pisahkan rawat jalan, rawat inap, laboratorium, radiologi, dan farmasi. Bank ingin melihat unit mana yang tumbuh.
- Piutang BPJS dan asuransi. Buat daftar umur piutang dan status klaim. Piutang lama tanpa penjelasan menurunkan kepercayaan analis.
- Jasa dokter. Catat sebagai beban dan utang secara konsisten, bukan langsung dibayar dari kas tanpa pencatatan.
- Aset tetap. Siapkan daftar alat dengan nilai perolehan dan penyusutan. Alat yang akan dibiayai juga perlu penawaran harga dari vendor.
- Pemisahan kas pribadi. Pengeluaran pribadi pemilik yang tercampur membuat laba tampak lebih kecil dari sebenarnya.
Dokumen Pendukung Selain Laporan Keuangan
- Izin operasional klinik atau rumah sakit yang masih berlaku.
- Perjanjian kerja sama dengan BPJS Kesehatan dan asuransi.
- Rekening koran enam sampai dua belas bulan terakhir.
- Proyeksi pendapatan dari alat baru, misalnya jumlah tindakan per bulan dan tarifnya.
- SPT Tahunan badan yang sesuai dengan laporan keuangan.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Yang paling sering adalah angka di laporan keuangan berbeda jauh dengan SPT atau rekening koran. Analis akan bertanya mana yang benar. Kesalahan lain adalah menyusun proyeksi yang terlalu optimistis tanpa data jumlah pasien. Lebih baik proyeksi konservatif yang bisa dijelaskan daripada angka besar yang sulit dipertahankan.
Sewa, Leasing, atau Kredit Bank
Alat kesehatan bisa diperoleh lewat kredit investasi bank, pembiayaan dari perusahaan leasing, atau skema kerja sama operasi dengan vendor alat. Masing-masing berdampak berbeda pada laporan keuangan. Kredit dan leasing umumnya mencatat alat sebagai aset sekaligus utang. Skema kerja sama operasi biasanya berupa bagi hasil, sehingga tidak menambah utang tetapi mengurangi margin layanan. Hitung juga biaya pemeliharaan, kalibrasi, dan bahan habis pakai, karena biaya ini sering lebih besar dari perkiraan awal. Bank akan lebih yakin jika proyeksi Anda sudah memasukkan semua komponen tersebut.
Ceritakan kondisi usaha Anda kepada kami: jenis usaha, tahun buku yang diperlukan, dan untuk keperluan apa laporan itu dipakai. Konsultasi awal gratis. Kami bantu pilihkan kantor berizin yang sesuai dengan skala dan kebutuhan Anda.