Hampir setiap pengajuan kredit modal kerja atau investasi dilengkapi proyeksi keuangan. Masalahnya, banyak proyeksi disusun hanya untuk terlihat bagus. Omzet naik tajam setiap tahun, margin membaik, dan kas selalu cukup. Analis kredit yang berpengalaman justru curiga pada proyeksi seperti ini. Proyeksi yang meyakinkan adalah proyeksi yang asumsinya bisa diuji.
Bank Membaca Asumsi Lebih Dulu
Sebelum melihat angka akhir, analis membaca asumsi. Siapkan halaman asumsi yang jelas, misalnya:
- Pertumbuhan penjualan, dikaitkan dengan kontrak, kapasitas produksi, atau data historis.
- Harga pokok dan margin kotor, dibandingkan dengan rata-rata tiga tahun terakhir.
- Hari piutang, hari persediaan, dan hari utang usaha.
- Rencana belanja modal dan jadwal penyusutannya.
- Suku bunga, tenor, dan jadwal angsuran pinjaman yang diajukan.
Asumsi yang jauh berbeda dari kinerja historis harus punya alasan tertulis. Misalnya, kenaikan omzet karena mesin baru mulai beroperasi, lengkap dengan kapasitas dan harga jual.
Arus Kas Lebih Penting dari Laba
Bank meminjamkan uang dan ingin uang itu kembali. Karena itu, laporan arus kas proyeksi adalah bagian paling penting. Laba bisa terlihat sehat, tetapi kas habis karena piutang dan persediaan tumbuh lebih cepat dari penjualan. Proyeksi yang baik menunjukkan kas operasi bulanan atau triwulanan, terutama pada tahun pertama setelah kredit cair.
Rasio yang Biasa Dihitung Analis
| Rasio | Yang Ingin Dilihat Bank |
|---|---|
| Debt service coverage | Kas operasi cukup untuk bunga dan pokok, dengan bantalan |
| Rasio utang terhadap ekuitas | Pemilik ikut menanggung risiko, tidak semua dari bank |
| Rasio lancar | Aset lancar cukup untuk kewajiban jangka pendek |
| Kebutuhan modal kerja | Plafon yang diajukan sesuai siklus usaha |
Batas rasio yang diterima berbeda di setiap bank dan sektor. Jangan memaksa angka agar lolos batas tertentu. Lebih baik tunjukkan rasio apa adanya disertai rencana perbaikan.
Sertakan Skenario Sensitivitas
Analis hampir pasti bertanya: bagaimana jika penjualan turun atau pembayaran pelanggan terlambat? Siapkan jawabannya sejak awal. Buat minimal dua skenario tambahan, misalnya penjualan 15 persen di bawah rencana dan penagihan piutang mundur satu bulan. Tunjukkan bahwa perusahaan tetap mampu membayar angsuran, atau jelaskan langkah yang akan diambil, seperti menunda belanja modal atau menambah setoran modal pemilik.
Kesalahan Teknis yang Sering Ditemukan
- Neraca proyeksi tidak seimbang, tanda model tidak terhubung dengan benar.
- Saldo awal proyeksi berbeda dengan laporan keuangan terakhir.
- Pajak penghasilan tidak dihitung atau dihitung dengan tarif yang keliru.
- Angsuran pinjaman lama terlupa, hanya pinjaman baru yang dimasukkan.
- Pendapatan naik, tetapi biaya tenaga kerja dan operasional tetap datar.
Kaitkan dengan Laporan Historis
Proyeksi hanya dipercaya jika laporan historisnya dipercaya. Laporan keuangan audited dua sampai tiga tahun terakhir memberi dasar yang kuat. Jika laporan historis belum rapi, bereskan itu lebih dulu sebelum menyusun proyeksi. Untuk proyek besar, bank kadang meminta studi kelayakan atau penilaian independen sebagai pelengkap.
Ceritakan kondisi usaha dan kebutuhan laporan keuangan Anda kepada kami. Konsultasi awal gratis, dan kami bantu pilihkan kantor berizin yang sesuai dengan skala serta tujuan perusahaan Anda.